Jumat, 26 April 2013

Java Heat (2013): 145 Miliar yang Percuma


This is my case. Yes, But This is my country.

 

Sebuah kabar mencengangkan ketika ada film yang katanya produksi Indonesia dengan biaya produksi mencapai 145 miliar. Ya, digarap dengan kesulitan tinggi yakni dengan mengambil gambar di Candi Borobudur serta mendatangkan beberapa pemain bule, Java Heat diharapkan dapat mendobrak film-film bergenre action yang sebelumnya dipandang sebelah mata di Indonesia.







Cerita dimulai dari Jake (Kalen Lutz) yang diinterogasi oleh Letnan Hashim (Ario Bayu) mengenai peledakan bom di Kesultanan Jawa. Dampak dari peledakan itu adalah meninggalnya sang sultan perempuan pertama di Jawa Sultana (Atiqah Hasiholan). Para polisi pun diharapkan dapat menangkap siapa pelaku di balik semua ini.
Penangkapan demi penangkapan pun dimulai beberapa diantaranya melakukan bom bunuh diri ketimbang harus ditangkap. Polisi mencurigai Faruq sebagai pelaku pemboman, namun misteri tak semudah itu untuk dipecahkan. Kemungkinan lain mengarah kepada Jake ketika semua kebohongan demi kebohongannya mulai terungkap.
Disutradarai Connor Allyn film Java Heat begitu menggebrak lewat trailernya yang menampilkan sejumlah ledakan dan berbagai aksi kejar-kejaran. Tentu hal inilah yang menjadikan alasan kenapa penonton harus menyaksikan Java Heat. Biasanya adegan di trailer adalah semi-klimaks atau belum pada tahap tertinggi suatu film. Sayangnya, di Java Heat tayangan tersebut adalah tayangan paling klimaks artinya tidak ada lagi ledakan-ledakan besar di film ini. Berdasarkan perhitungan ada dua ledakan besar serta beberapa ledakan kecil. Paling lucu adalah ketika sebuah gerobak bakso meledak dan menghasilkan efek yang menurut saya terlalu dibesar-besarkan.
Mendatangkan salah satu keluarga Cullen dari Twilight tentu bukan pekerjaan mudah, namun Kallen lah yang menjadi bintang dalam film ini. Dianugerahi dengan badan yang proporsional, Kalen layaknya Jason Bourne dalam tiga seri Bourne. Jika tak ada Ario Bayu di dalamnya, penonton pasti berfikir bahwa ini adalah film produksi Amerika yang shooting di Indonesia karena seluruh percakapannya menggunakan Bahasa Inggris.
Akting Kallen memang tidak 100% namun jika dibandingkan dengan pemeran lain, ia adalah bintangnya. Terutama jika dibandingkan dengan Rio Deanto yang menurut saya film ini adalah film terburuknya. Ia berakting sedemikian kaku entah karena tunangannya yang juga main di film ini atau bagaimana.
Tidak ada film yang tidak meninggalkan kritik karena “ketidak-mungkinan-nya”. Di awal saya begitu mengagumi bagaimana Kallen menembakan senjata. Meski hanya berjenis pistol namun terasa realistis karena suara dan efek yang ditimbulkan. Namun seiring waktu berlalu, adegan tembak-tembakan menjadi tidak realistis sama sekali. Bayangkan sebuah AK47 dijinjing dan ditembakan begitu mudah tanpa recoil sedikitpun. Dan di beberapa bagian kita bisa tahu bahwa mereka tidak menembakannya.
Film ini juga begitu gelap bahkan ketika adegabn kejar-kejaran di malam hari dan kejar-kejaran di terowongan, saya seperti menonton bayangan yang tengah berlarian. Syaang sekali padahal kejar-kejaran ini dapat dibuat lebih indah lagi terlebih akting yang pas dari Kallen.
Tentu terburuk dari film ini adalah cerita itu sendiri. Tidak ada dari cerita yang terlihat memberikan pesan moral. Semuanya tampak begitu klise. Tertidur di tengah film pun sepertinya tak akan jadi masalah karena film ini seperti 1+1 mudah diterka hasilnya. Apalagi dialog-dialog yang dikeluarkan seolah kosong.
Harga 145 miliar tentu saja bukan uang yang sedikit. Namun jika saya lebih memilih saya lebih baik membangun sebuah pabrik dan mempekerjakan sejumlah uang ketimbang membuat film yang outputnya ternyata seperti ini. Java Heat jelas sebuah presentasi yang buruk di kelasnya, namun jika mengingat ini adalah film Indonesia, film ini masih 3 tingkat di bawah The Raid.
Rating: 4.0

Rabu, 24 April 2013

Oblivion (2013): Bumi Si Sumber Masalah

If you're looking for the truth, that's where you'll find it.







Berdasarkan referensi awal, Oblivion dibangun oleh pengayaan ala Tron Legacy dan film sejenisnya yang bersifat futuristik. Film dengan tema-tema seperti ini sebenarnya sudah tidak terlalu seksi lagi, terlebih jika film tersebut hanya mengandalkan aksi belaka tanpa adanya pesan atau makna moral di dalamnya.
Oblivion dimulai dari dua orang manusia yang masih hidup di bumi. Mereka lah satu-satunya kelompok yang masih hidup di tengah hegemoni robot-robot penghisap sumber daya alam di bumi. Ya, keduanya bekerja sebagai petugas bengkel jika ada robot-robot yang rusak. Keduanya dipandu oleh seseorang yang berasal dari Tet. Jika berhasil maka keduanya akan dikirmkan ke Titan sebagai tempat yang lebih baik ketimbang bumi.
Bumi pada saat itu diperlihatkan sebagai kawasan yang diliputi oleh gurun dan udara panas. Tidak ada tumbuhan yang berani masuk ke daerah tersebut. Ada robot pemakan bangkai yang kerap mencuri spare part dan baterai dari robot-robot yang rusak.
Dikisahkan Jack (Tom Cruise) dan Vika (Andrea Riseborough) adalah sepasang regu yang bertugas mengawal robot-robot yang menghisap air dari bumi. Vika berperan sebagai menara pengawas sedangkan Jack sebagai teknisi. Hingga suatu hari, beberapa robot dikabarkan tertembak jatuh dan sparepartnya dicuri.
Jack lalu menemukan sebuah ngarai yang di dalamnya tumbuh pepohonan dan air yang jernih. Lantas, sebuah pesawat ulang alik jatuh di kawasan yang terkena radiasi. Dari situ, ia bertemu dengan Julia (Olga Kurylenko) dan mulai menyibak apa saja yang terjadi sebelumnya.
Dari departemen artis film ini jelas tidak main-main dengan menghadirkan Tom Cruise sebagai tokoh utama. Namun, sungguh disayangkan karena tidak ada satupun yang menonjol dari dirinya. Jika dibandingkan dengan film-film action seperti Mission Imposible akting Tom jelas tak ada apa-apanya. Ia hanya terbang di pesawat, bergelantungan , ya sudah. Sang Sutradara sayangnya tak mampu mengoptimalkan peran Tom dengan baik.
Demikian halnya dengan Olga Kurylenko yang kebanyakan hanya bengong dan menjadi aktor cadangan yang tidak menarik sedikitpun. Lain halnya ketika Olga main di Hitman atau Quantum of Solace misalnya. Ia tak lebih sebagai pendamping Tom semata.
Naskah yang ditulis sungguhlah buruk. Hal ini berdampak kepada dialog yang monoton dan tidak menarik untuk disimak. Demikian dengan alur cerita yang sebenarnya bisa berakhir twist namun tak sedikitpun menjadi kejutan ketika hal tersebut disajikan.
Oblivion beruntung dari segi animasi gambar yang mengagumkan penuh dengan warna terang di sana-sini serta sound effect yang apabil menonton dari bioskop untuk beberapa saat Anda akan merasa tengah menyaksikan film 4dimensi karena seluruh ruangan yang bergetar.
Oblivion menampilkan sesuatu cerita yang berbeda meski disajikan dengan kurang baik. Namun pengambilan gambar yang jernih membuat Oblivion bukanlah sebuah presentasi yang buruk.
Rating: 6.5

Minggu, 21 April 2013

SINISTER (2012): Horror Ala Pranormal Activity

 Don't worry Daddy, I'll make you famous again.






Saya langsung tertarik ketika poster film Sinister muncul. Hal ini karena poster tersebut mengandung tulisan “From the director Paranormal Activity and Insidious”. Ya, Insidious memang memukau sejak awal dan menjadi salah satu rekomendasi film horor yang patut untuk ditonton.
Sinister bermula dari seorang penulis buku kriminal Ellison (Ethan Hawke) yang pindah ke rumah tempat sebuah kasus pembunuhan terjadi. Ia turut serta bersama  istri dan kedua anaknya. Awalnya ia tidak merasakan apa-apa hingga sebuah film 8mm ada di loteng rumahnya. Dari situ ia belum sadar bahwa keluarganya tengah dalam ancaman.
Ellison memungkiri jika mereka pindah ke dekat tempat pembunuhan, ya karena mereka tinggal tepat di lokasi di mana pembunuhan tersebut terjadi. Di Film 8mm tersebut Ellison meyakini bahwa dari semua pembunuhan tersebut telah hadir unsur supranatural yang tidak bisa dijelaskan dengan sosok bernama Mr. Boogie sebagai aktornya.
Berbagai kejutan memang disiapkan sang sutradara Scoot Derickson. Di beberapa scene saya bahkan sempat melonjak dari kursi karena adegan-adegan yang diset sedemikian menegangkan. Penambahan found footage juga menjadi nilai plus tersendiri karena penonton dipaksa menyaksikan serial pembunuhan yang telah terjadi sebelumnya.
Namun, tidak seperti ekspektasi awal saya terhadap film ini sebelumnya. Film ini bahkan jauh berada di bawah Paranormal Activity dan tidak mampu menyamai kualitas cerita yang disodorkan Insidius. Film ini malah mengingatkan saya pada franchise tersukses Scream. Alur ceritanya sama, seorang penulis buku turut serta dalam kejadian-kejadian aneh yang ada di dalam bukunya.
Dari penampil sendiri Ethan Hawke seolah berakting sendirian, tidak ada aktor lain yang menonjol perannya. Peran Ethan sendiri saya pikir kurang maksimal. Lain halnya dengan Patrick Wilson sang pemeran pria di film Insidious yang memerankan dengan tepat bagaimana tingkah seorang ayah.
Saya tidak begitu suka dengan kehadiran hantu yang tidak tahu bagaimana awal mula dan akhirnya seperti dalam Paranormal Activity. Sialnya, film ini dikemas seperti itu, ending yang menggantung memang kerap dilakukan film-film hollywood. Insidious pun melakukan hal yang sama. Namun, Sinister adalah kesalahan. Ia tak mampu menyaingi ending gantung The Exorcism of Emily Rose yang tampil epik.
Sinister adalah presentasi yang tidak cukup baik bagi film yang diarahkan sutradara sekelas Scoot Derickson. Alur cerita yang buruk menjadi fokus utama di sini. Meski sedikit diselamatkan oleh dialog antar tokoh yang cukup natural. Sinister dapat menjadi pilihan cadangan jika di bioskop hanya ada film horor Indonesia.
Oya, hati-hati dengan opening dan beberapa found footage yang… Nonton sendiri saja lah.

Rating: 6.0

Jumat, 01 Februari 2013

The Bourne Identity (2002)

How could I forget about you? You're the only person I know.




Seorang agen yang mengalami amnesia tiba-tiba terlibat dalam pengejaran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ketidaktahuan mengenai siapa dirinya dan apa yang sebenarnya menimpanya membuat Jason Bourne (Matt Damon) mengalami tekanan batin yang luar biasa. Ia bisa membaca, menulis, bahkan intelegensi sebagai agen rahasia masih ada di otaknya. Ia hanya tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi sebelum ia akhirnya diselamatkan kapal nelayan Italia.
Jason yang memiliki dua luka tembak di punggung, terapung di lautan sebelum ditemukan Giancarlo (Orso Maria Guerrini). Jason akhirnya berhenti di Swiss untuk segera menukarkan nomor rekening yang terselip di pinggangnya. Sebuah hal yang mengejutkan ketika ia menemukan sejumlah uang, paspor dan satu pucuk pistol dalam brankas miliknya.
Jason berupaya menghubungi kedutaan Amerika di Zurich. Namun, keadaan berubah begitu saja ketika petugas keamanan berusaha menangkap dan mengejarnya. Jason lantas bertemu Marie (Frank Pottente) dan memintanya untuk pergi ke Paris. Dari sini, petualangan itu dimulai.
Ya, “Bourne” sebuah call name istimewa bagi penonton yang berharap mendapatkan suguhan bergenre aksi. Film pertama dari trilogi ini tidak menghadirkan banyak dialog. Memang banyak adegan diam, namun tidak banyak pula adegan-adegan aksi.
Doug Liman sang sutradara agaknya kurang begitu fasih dalam men-direct sebuah film bergenre action. Aksi kejar-kejaran pun terasa begitu mudah. Tidak ada adegan yang benar-benar memacu jantung atau mengagetkan. Semua seperti sudah dapat ditebak begitu saja. Akting kaku Matt Damon juga menjadi kendala. Beruntung Franka Pottente dapat mengimbangi dan membuat film ini sedikit lebih berwarna.
Kualitas gambar yang dihadirkan pun saya pikir tidak lebih baik dari film-film Bond tahun 70an. Pengambilan gambar biasa saja, serta tidak ada teknologi-teknologi hebat jika dibandingkan film aksi lainnya. Bahkan, jika dibandingkan dengan film Die Hard edisi pertama sekalipun. Jalan cerita memang mengalir namun ada di beberapa bagian yang tidak menggambarkan sedang-melakukan-apa karena memang tidak ada penjelasan. Setelah diusut, ternyata “The Bourne Identity” adalah film adaptasi dari novel dengan judul yang sama. Maka, akan banyak detail dari novel yang pasti tidak diperlihatkan dari film ini.
Cukup aneh dengan penilaian reviewers IMDB dengan memberi skor 7.9 Menurut saya, nilai 6 pun sudah lebih dari cukup. Film ini tidak istimewa dan membuat keraguan untuk menyaksikan dua judul setelahnya.

Rating: 5.5

Senin, 14 Januari 2013

Banjir Kopo Sayati


Para pria mulai dari anak-anak hingga orang dewasa tumpah ruah di tengah jalan. Ada yang mengatur lalu lintas, ada pula yang “berenang” di tengah pekatnya air yang menggenang. Semuanya terlihat takjub, meski setiap hujan turun, kondisi serupa kerap terjadi.


Banjir di kawasan Sayati Kabupaten Bandung terpisah di tiga titik dengan jarak sekitar 100 meter. Titik pertama tepat di depan pertigaan Sayati – Sukamenak. Dengan ketinggian hingga betis orang dewasa, beberapa kendaraan umumnya lebih memilih jalan memutar lewat Pasar Sayati Lama.
Titik ke dua merupakan daerah dengan genangan air paling tinggi hingga mencapai lutut orang dewasa. Genangan ini berasal dari luapan Jembatan Cedok yang mengalir ke jalan. Pengendara motor biasanya memutar lewat gang, sementara pengendara mobil dengan elevasi rendah harus memutar lewat Pasar Sayati Lama.
Titik terakhir ada di depan SPBU setelah “jalan dengdek”. Beberapa pengendara seringkali “ikut” masuk ke SPBU agar kendaraannya tak terendam.
Kondisi ini diperparah dengan aspal di sepanjang jalan yang mengelupas. Kupasan aspal ini menjadikan “jurang” menakutkan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan. Saya sempat merasa frustasi karena harus mengalami kemacetan yang cukup mengesalkan sejak Gerbang Tol Kopo. Belum lagi saya harus menyiapkan mental untuk melewati “danau” di tengah jalan tersebut.
Jalan Kopo merupakan salah satu akses jalan tersibuk yang menghubungkan Kabupaten Bandung dan Kota Bandung. Anehnya, genangan air serta kualitas aspal yang buruk tidak begitu mendapat perhatian yang layak dari Pemerintah Kabupaten Bandung. Genangan air di kawasan Sayati bahkan telah terjadi beberapa tahun silam. Jika hingga saat ini masih juga terendam, artinya upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bandung tidak membuahkan hasil.
Harapan saya, siapapun pemangku kebijakan mau untuk memperbaiki kondisi alam khususnya yang ada di kawasan Sayati. Sudah cukuplah kami yang berkendara dari arah kota dipusingkan dengan kemacetan yang selalu terjadi. Tak perlulah ditambah stress dengan banjir yang ada. Karena selain menutup jalan, genangan air ini juga mematikan usaha masyarakat di sekitar kawasan banjir. Belum lagi wisatawan potensial yang akan berkunjung ke Ciwidey atau Pangalengan, mereka tentu berpikir dua kali jika ingin mengunjungi tempat yang sama.

Semoga, ada langkah nyata yang dilakuan Pemerintah Kabupaten Bandung demi mengatasi genangan air umumnya di Kabupaten Bandung. Karena saya yakin, masyarakat pun sudah bosan berenang di “kolam renang” gratis tersebut.

*Dimuat di Surat Pembaca Harian Pikiran Rakyat Minggu 23 Desember 2012