Matahari mulai menyingsing ketika kami semua berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir sungai. Sungai ini tepat berada di samping kami dan menjadi saksi kecelakaan yang saya alami kemarin sore. Namun, sungai ini terasa begitu indah untuk saya salahkan. Alirannya seolah mengajak mata ini terbuai dalam lamunan.
Embusan angin seolah membisikan sesuatu ketika saya melihat air terjun setinggi lima meter di pinggir sungai ini. Aliran air terjunnya memang kecil, tapi sedikit terhalangi oleh pepohonan besar yang menaunginya. Sungguh indah.
Air di sungai ini begitu jernih. Seorang teman bahkan sempat merasakan bagaimana segarnya air sungai ini. Saya pun demikian, meski ditambah perasa jeruk dalam kemasan “Segar Sari”. Sungai ini hanya selebar dua orang manusia dibaringkan. Kecil, ditambah bebatuan yang menambah semakin semaraknya sungai ini.
Beranjak ke hilir, sampah mulai mengusik keindahan sungai ini. Namun, sampah-sampah yang dibuang warga tidak langsung ke sungai, hanya sebagian kecil saja. Jalanan menyusuri sungai pun berubah menjadi teduh. Pepohonan di pinggir sungai membuat saya betah berlama-lama disini.
Dengan background gunung patuha yang tertutupi kabut, tak ada yang menyangsikan keindahan sungai ini. Beberapa gadis yang main air di pinggiran sungai, semakin menambah kenikamatan menjangkau seluruh isi sungai, sebenarnya ini yang menambah rasa eksotisme sungai cijuha.
Embusan angin seolah membisikan sesuatu ketika saya melihat air terjun setinggi lima meter di pinggir sungai ini. Aliran air terjunnya memang kecil, tapi sedikit terhalangi oleh pepohonan besar yang menaunginya. Sungguh indah.
Air di sungai ini begitu jernih. Seorang teman bahkan sempat merasakan bagaimana segarnya air sungai ini. Saya pun demikian, meski ditambah perasa jeruk dalam kemasan “Segar Sari”. Sungai ini hanya selebar dua orang manusia dibaringkan. Kecil, ditambah bebatuan yang menambah semakin semaraknya sungai ini.
Beranjak ke hilir, sampah mulai mengusik keindahan sungai ini. Namun, sampah-sampah yang dibuang warga tidak langsung ke sungai, hanya sebagian kecil saja. Jalanan menyusuri sungai pun berubah menjadi teduh. Pepohonan di pinggir sungai membuat saya betah berlama-lama disini.
Dengan background gunung patuha yang tertutupi kabut, tak ada yang menyangsikan keindahan sungai ini. Beberapa gadis yang main air di pinggiran sungai, semakin menambah kenikamatan menjangkau seluruh isi sungai, sebenarnya ini yang menambah rasa eksotisme sungai cijuha.
Dentuman kembang api begitu menggema di setiap sudut kota. Seiring langkah berdegup menyongsong sesuatu yang baru. Semua senyuman terkembang memaknai kilauan cahaya. Mulut-mulut mungil mulai meniup terompet yang berdenging di telinga.
Suasana seperti inilah yang tidak saya dapat ketika perayaan tahun baru kemarin. Tidak ada kembang api di atas langit kota bandung nan biru, tak ada suara terompet bak vuvuzela. Mengapa? Karena malam itu saya tertidur begitu lelap -_-‘
Saya sengaja melewati peringatan tahun baru ini dengan biasa-biasa saja. Benar-benar tidak ada yang istimewa. Sesuatu yang istimewa di hari Jum’at itu adalah keberhasilan saya mewawancarai anggota DPRD. Semuanya terasa begitu mudah.
Di rumah, saya berdiri di loteng. Terlihat dengan jelas bagaimana cahaya saling berpendar menerangi indahnya kota Bandung di waktu malam. Namun, saya melihat ke arah selatan. Sepi. Tidak terlihat kemilau warna oranye disana. Seolah, kehidupan hanya mereka yang tahu. Saya lalu teringat kepada bapak penjual jagung manis.
Bapak ini menggelar dagangannya di depan pabrik “Asia Sport” dalam gelapnya malam. Hanya sorotan lampu kendaraan yang meneranginya yang tengah duduk bersama sang anak. Saya yakin, bapak ini datang dari jauh. Pasti daerah pegunungan semacam Ciwidey ataupun Pangalengan. Jagung-jagung itu pun dijualnya dengan murah. Lima belas ribu untuk dua puluh buah jagung berukuran sedang.
Malam itu, sang bapak menyajikan kemenangan bagi orang-orang yang ingin tahun baru dengan membakar jagung. Bapak ini tahu benar bagaimana menyuguhkan kesenangan bagi orang-orang itu. Saya hanya termenung, sungguh malam ini ia menjadi pahlawan.
Malam itu, setelah makan jagung saya memaksakan untuk tidur, meski jam menunjukan pukul sebelas malam. Kurang dari satu jam lagi, tahun 2010 kan berubah. Saya bahkan menolak menghadiri berbagai acara yang diadakan. Saya ingin tidur dan merasakan apa yang akan saya dapatkan esok hari.
Tahun ini seolah tanpa resolusi. Percuma, resolusi ini bagaikan menulis di kertas lusuh. Kertas-kertas yang akan hancur oleh waktu. Di dalam kamar, saya terbangun pagi-pagi sekali. Saya meyakini orang-orang yang tadi malam bersorak, masih lelap dalam tidurnya. Sementara itu, penolakan terhadap sebuah acara, membuat kemarahan seseorang bergejolak.
Saya meyakini malam tadi hanyalah waktu untuk menghabiskan tahun tanpa diiringi makna. Saya membandingkan ketika tahun baru hijriah bergulir. Tidak ada sorak sorai. Ketika sejumlah anak berbalut busana muslim dengan kesederhanaan menggiring obor berkeliling komplek. Lalu, sang tua bertanya, ada apa, sang muda menjawab, ini hari kemenangan.
Apa yang didapat ketika manusia-manusia berdiri ceroboh menyalakan bubuk mesiu? Ketika kesenangan mereka saat mesiu meledak, ditambah getaran-getaran yang mengusik gendang telinga. Semua dilakukan untuk apa? Merayakan apa?
Suasana seperti inilah yang tidak saya dapat ketika perayaan tahun baru kemarin. Tidak ada kembang api di atas langit kota bandung nan biru, tak ada suara terompet bak vuvuzela. Mengapa? Karena malam itu saya tertidur begitu lelap -_-‘
Saya sengaja melewati peringatan tahun baru ini dengan biasa-biasa saja. Benar-benar tidak ada yang istimewa. Sesuatu yang istimewa di hari Jum’at itu adalah keberhasilan saya mewawancarai anggota DPRD. Semuanya terasa begitu mudah.
Di rumah, saya berdiri di loteng. Terlihat dengan jelas bagaimana cahaya saling berpendar menerangi indahnya kota Bandung di waktu malam. Namun, saya melihat ke arah selatan. Sepi. Tidak terlihat kemilau warna oranye disana. Seolah, kehidupan hanya mereka yang tahu. Saya lalu teringat kepada bapak penjual jagung manis.
Bapak ini menggelar dagangannya di depan pabrik “Asia Sport” dalam gelapnya malam. Hanya sorotan lampu kendaraan yang meneranginya yang tengah duduk bersama sang anak. Saya yakin, bapak ini datang dari jauh. Pasti daerah pegunungan semacam Ciwidey ataupun Pangalengan. Jagung-jagung itu pun dijualnya dengan murah. Lima belas ribu untuk dua puluh buah jagung berukuran sedang.
Malam itu, sang bapak menyajikan kemenangan bagi orang-orang yang ingin tahun baru dengan membakar jagung. Bapak ini tahu benar bagaimana menyuguhkan kesenangan bagi orang-orang itu. Saya hanya termenung, sungguh malam ini ia menjadi pahlawan.
Malam itu, setelah makan jagung saya memaksakan untuk tidur, meski jam menunjukan pukul sebelas malam. Kurang dari satu jam lagi, tahun 2010 kan berubah. Saya bahkan menolak menghadiri berbagai acara yang diadakan. Saya ingin tidur dan merasakan apa yang akan saya dapatkan esok hari.
Tahun ini seolah tanpa resolusi. Percuma, resolusi ini bagaikan menulis di kertas lusuh. Kertas-kertas yang akan hancur oleh waktu. Di dalam kamar, saya terbangun pagi-pagi sekali. Saya meyakini orang-orang yang tadi malam bersorak, masih lelap dalam tidurnya. Sementara itu, penolakan terhadap sebuah acara, membuat kemarahan seseorang bergejolak.
Saya meyakini malam tadi hanyalah waktu untuk menghabiskan tahun tanpa diiringi makna. Saya membandingkan ketika tahun baru hijriah bergulir. Tidak ada sorak sorai. Ketika sejumlah anak berbalut busana muslim dengan kesederhanaan menggiring obor berkeliling komplek. Lalu, sang tua bertanya, ada apa, sang muda menjawab, ini hari kemenangan.
Apa yang didapat ketika manusia-manusia berdiri ceroboh menyalakan bubuk mesiu? Ketika kesenangan mereka saat mesiu meledak, ditambah getaran-getaran yang mengusik gendang telinga. Semua dilakukan untuk apa? Merayakan apa?
Who do you see, with your eyes shut tight. Regret will be your bride, goodbye ..
Tidak, saya tidak sedang bernyanyi. Nada tersebut mengalun dari telepon genggam yang menandakan bahwa sebuah SMS sedang mendatangi kehidupan. Saya membuka pesan singkat tersebut. Isinya mengenai rapat Karang Taruna (ababil pisan, heueuh) yang akan diselenggarakan di malam setelah natal.
Ajakan ini begitu saja saya iyakan. Mengingat sudah hampir SATU tahun kami tidak pernah berkumpul karena kesibukan (sok sibuk) masing-masing anggota. Acara rapat ini diadakan tepat pukul setengah tujuh malam. Meskipun pada kenyataannya baru dimulai sekitar pukul delapan tepat.
Sebagai fungsionaris (pengurus) karang taruna yang begitu populer -_-‘, saya sendiri tidak mengetahui agenda apa yang akan dibahas pada forum akbar ini. Sepengetahuan saya, agenda terdekat adalah malam pergantian tahun yang biasa kami lakukan dengan tafakuran.
Sang ketua datang terlambat. Dengan tergopoh-gopoh ia memegangi kakinya. Dari jauh, celana jeans yang digunakannya sobek. Begitu ia mendekat, bau bensin tercium disertai darah segar dari betisnya. Menjijikan. Ya, selain kasian tentunya. Ternyata ia baru saja mendapat musibah. Tapi, yasudahlah.
Malam pun mulai larut. Tidak seperti biasanya. Rombongan anak-anak, maaf, ingusan berkumpul di depan rumah sang ketua. Anjiss, saya menyangka mereka akan membuat forum tandingan. Dengan wajah yang masih terkejut, saya pun bertanya kepada sang ketua ada apa sebenarnya. Dengan tenang, sang ketua menjelaskan bahwa agenda yang akan dibahas kali ini adalah penambahan anggota baru. Ya, dengan merekrut anak-anak, maaf, ingusan itu.
Hasil diskusi saya dengan sang ketua adalah penambahan anggota baru dilakukan hingga Juni 2011, sehingga masa jabatan kami, ehm, sudah mencapai dua tahun, lalu anggota baru itu dimasukan sebagai pengurus. Katanya sih, agar mereka lebih memiliki tanggung jawab dalam memikul kerasnya kehidupan.
Malam itu hanya ada sepuluh orang yang berkumpul. Tapi, malam semakin larut. Kami pun menjadi terlarut akan kenangan-kenangan indah masa lalu, ketika kami masih bersama. Calon-calon anggota baru pun terabaikan. Mereka menghilang entah kemana. Sementara itu, kami menikmati hangatnya malam ini ditemani percikan-percikan minyak dari wajan yang mematangkan ayam, hingga suara ketukan pisau yang mengiris kangkung.
Sungguh malam yang luar biasa. Kami mengakhirinya dengan ucapan “Alhamdaulilah, thanks God, kita udah kenyang,” ya, malam itu tidak ada rumusan-rumusan penting yang menyangkut kepemudaan di RT, yang ada hanyalah kebersamaan yang benar-benar sudah tidak pernah saya rasakan semenjak di Non-Aktifkan dari organisasi ini.
Pukul setengah satu malam, saya sampai di rumah. Rumah saya hanya selang lima rumah dengan rumah sang ketua. Di perjalanan saya melihat bulan yang ¾ dengan bintang-bintang yang bersinar redup. Saya pun merenung di dalam kamar. Saya membayangkan bulan sebagai benda yang sudah lama, dan bintang sebagai benda baru. Bintang berusaha menjadi yang paling terang, memang terang, tapi begitu kecil. Bulan sebagai benda paling terang, menjadi tutor sang bintang sehingga bintang mendapatkan sinarnya yang sebenarnya.
Saya tidak sedang mengajarkan fisika atau apapun, saya membayangkan ketika sebuah organisasi tidak memiliki regenerasi. Ketika organisasi berjalan dengan orang yang itu-itu saja. TIdak ada pembaruan, bukan karena tidak bisa, tapi karena orang-orang tidak mau masuk kedalamnya. Organsasi karang taruna di RT masih berjalan di tahun kedua. Tidak jalannya organisasi ini ya karena setelah periode tertentu, tidak ada regenerasi atau setidaknya penambahan anggota. Bukan karena warga yang tidak mau, tapi kami merasa mereka yang belum mampu.
Saya pun termenung, bukan memikirkan ini. Tapi, memikirkan ospek apa yang paling tepat untuk anggota baru kami :D
You, ooh you, every single thing you do, I’m so proud of you, that’s so you ..
Sudah lama sekali rasanya tidak mendengarkan lagu ini. Pertama kali saya diperdengarkan lagu ini oleh orang ke tiga di karang taruna (Wakil 2). Bukan pembahasan lagu ini sih, tapi lagu ini membuat saya terawang-awang ke masa keaktifan karang taruna di RT ini. Saat itu, kami tengah menonton layar tancep (it’s real), film yang diputar saat itu adalah, anjing, POCONG. Kami, para pejabat di karang taruna memang amat sangat very phobia pisan sama yang namanya POCONG!.
Memalukan memang, tapi begitulah kenyataan sebenarnya. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang, kembali ke rumah Pak Ketua yang dijadikan sekretariat bersama. Banyak kejadian konyol yang membuat kami benar-benar melupakan film pocong yang tengah diputar tadi. Di tempat ini, kami melepaskan semua perasaan kami keluar dan menyebarkannya keseluruh anggota.
Dulu, kami anggota karang taruna biasanya rapat atau sekedar makan siang di tempat ini. Dengan udunan yang hanya dua ribu rupiah, kami bisa menikmati masakan sang koki yang merangkap sebagai ketua. Di tempat ini, sudah tidak terhitung jutaan air mata yang menetes. Air mata haru, tangisan yang biasanya memecah malam.
Tempat ini pula menjadi tempat paling ceria di dunia. Kami datang untuk bersenang-senang. Itulah salah satu alasan mengapa saya masih bertahan meski kesibukan terus melanda. Tempat ini menjadi saksi kebuntuan pikiran dan kesuksesan sebuah acara. Tempat ini menjadi saksi segalanya :D.
Setidaknya, ketika kami semua mati, rumah ini kan menjadi saksi. Saksi bisu akan sebuah kenangan yang tak semu. Menjadi tempat ziarah ketika ingin membuka kenangan yang terindah.
Ini adalah tugas Orientasi Jurnalistik terakhir. Sekaligus menjadi paper untuk lomba di Kompas. Saya tau tulisan macam ini tidak layak untuk dimuat di kompas, sehingga saya tampilkan disini
Tema: Berandai-andai Kota Bandung Tanpa Macet
Penumpang menunggu bus ber-AC itu dari sebuah shelter, sementara yang lainnya duduk-duduk di foodcourt yang berada di area shelter. Tidak berselang lama, bus yang ditunggu-tunggu itu datang seiring dengan berhentinya hujan deras yang turun sejak siang hari. Penumpangnya mulai dari anak sekolah, pekerja pabrik hingga para eksekutif muda yang masih terlihat menggunakan jas. Semuanya berbaur di dalam ruangan besar yang luas dan nyaman. Bus pun melenggang dari shelter. Bus berjalan berdampingan dengan sepeda-sepeda yang dikayuh para pekerja di jalur khusus sepeda. Sesekali, monorel melintas di rel yang tingginya lima meter dari tanah. Tidak terdengar suara klakson maupun celetukan dari balik jendela kendaraan, semuanya tersenyum dan saling menyapa.
Suara klakson itu mengaggetkan, ternyata itu hanya sebuah lamunan ketika menunggu macet di seputar Jalan Soekarno Hatta. Setiap harinya, jalan ini selalu dipenuhi oleh kendaraan bermotor dari dua arah. Setiap paginya, kemacetan selalu menerjang setiap persimpangan jalan. Setiap tahun, jalan ini tidak pernah selesai “ditingkatkan” (diperbaiki).
Kendaraan berhenti karena seratus meter di depan terdapat pabrik. Motor dan mobil saling bersaing untuk menjadi terdepan. Tidak jarang, sepeda kayuh tersenggol motor yang ngotot. Kemacetan itu terus berlangsung hingga dua jam kemudian hanya karena para pekerja pabrik yang menyebrang jalan sesuka mereka.
Kendaraan diarahkan menuju jalan Braga, daerah yang menjadi tempat dengan bangunan-bangunan eksotis ala Belanda. Namun, seorang pengendara motor hampir saja terjatuh karena terpeleset ketika ban depannya masuk kedalam jalan granit yang berlubang. Di beberapa ruas jalan lain, kendaraan pribadi harus berbagi dengan angkot yang menunggu penumpang seenaknya.
Kendaraan umum seperti angkot dan bus Damri, bukannya memecah kemacetan, namun menjadi sumber kemacetan utama di kota Bandung. Bahkan, Trans Metro Bandung yang merupakan bantuan dari Kementrian Perhubungan (Departemen pada saat itu), hanya memiliki satu trayek dengan jumlah bus dan shelter yang minim.
Shelter-shelter bus di Kota Bandung kini berubah menjadi tempat berkumpulnya berandalan bermotor dengan coretan-coretan yang menandakan eksistensi mereka. Tidak seperti dalam serial Tv Mr. Bean yang berlokasi di Inggris, dengan sistem pembayaran melalui kartu yang digesekan setiap kali naik kedalam bus. Penumpang hanya diperbolehkan turun di shelter, tidak seperti angkutan-angkutan lainnya di Bandung.
Transportasi massal memang dibutuhkan oleh masyarakat Kota Bandung yang merindukan terbebas dari kemacetan. Selain itu, kesemrawutan yang diciptakan angkutan umum kini, membuat masyarakat semakin malas untuk sekedar jalan-jalan ke “kota.” Transportasi massal yang ada sekarang bukanlah yang diharapkan masyarakat Kota Bandung.
Seharusnya, program pemerintah membuat transportasi massal juga dengan pengurangan atau penghapusan angkutan kota yang sudah melebihi kapasitas jalan di Kota Bandung. Tidak seperti sekarang, projek Trans Metro Bandung berjalan namun untuk naik ke bus saja begitu sulit karena bus yang ditunggu tak kunjung datang disebabkan terjebak kemacetan.
Rencana pembangunan monorail pun sepertinya hanya sekedar wacana dan bukan untuk memecah kemacetan. Proyek ambisius ini tidak melewati daerah-daerah “penting” seperti pusat perkantoran dan pabrik yang memiliki jumlah pekerja yang besar. Proyek ini hanya melewati kawasan dago yang sebenarnya adalah daerah wisata, sehingga bisa ditebak, rencana ini sepenuhnya menjadi proyek komersial semata.
Saya membayangkan transportasi massal yang ada di Kota Bandung tidak seperti di Jakarta yang malah menambah kemacetan dan tidak membuat penumpang nyaman. Transportasi massal di Kota Bandung itu berjalan beriringan dengan jalur sepeda yang ada di sebelah kiri jalan dengan jalur pejalan kaki yang ada di jalur teduh di bawah pohon-pohon besar. Sementara itu, monorel berkelak-kelok membelah langit Kota Bandung.
Di setiap sudut jalan, tidak ditemui lagi masyarakat yang masih menggunakan kendaraan pribadi kecuali sepeda dan para pejabat pemerintahan yang arogan. Tidak ada lagi sahutan-sahutan kasar dari pengemudi kepada pengemudi lainnya karena menghalangi jalan. Di beberapa lokasi, masyarakat juga bisa menunggang kuda sebagai alat transportasi. Juga, terlihat sekelompok remaja yang menggunakan skateboard yang meluncur di jalanan yang mulus.
Semoga ini bukan hanya angan kosong belaka. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan yang tertinggi seharusnya bukan hanya menerapkan program, tetapi mengaplikasikannya secara sungguh-sungguh. Tidak hanya mengurusi kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan bersama. Mari ciptakan Kota Bandung tanpa macet dan dukung program angkutan massal.
Tema: Berandai-andai Kota Bandung Tanpa Macet
Angkutan Transportasi Massal: Sebuah Solusi
Oleh: Frasetya Vady Aditya
Penumpang menunggu bus ber-AC itu dari sebuah shelter, sementara yang lainnya duduk-duduk di foodcourt yang berada di area shelter. Tidak berselang lama, bus yang ditunggu-tunggu itu datang seiring dengan berhentinya hujan deras yang turun sejak siang hari. Penumpangnya mulai dari anak sekolah, pekerja pabrik hingga para eksekutif muda yang masih terlihat menggunakan jas. Semuanya berbaur di dalam ruangan besar yang luas dan nyaman. Bus pun melenggang dari shelter. Bus berjalan berdampingan dengan sepeda-sepeda yang dikayuh para pekerja di jalur khusus sepeda. Sesekali, monorel melintas di rel yang tingginya lima meter dari tanah. Tidak terdengar suara klakson maupun celetukan dari balik jendela kendaraan, semuanya tersenyum dan saling menyapa.
Suara klakson itu mengaggetkan, ternyata itu hanya sebuah lamunan ketika menunggu macet di seputar Jalan Soekarno Hatta. Setiap harinya, jalan ini selalu dipenuhi oleh kendaraan bermotor dari dua arah. Setiap paginya, kemacetan selalu menerjang setiap persimpangan jalan. Setiap tahun, jalan ini tidak pernah selesai “ditingkatkan” (diperbaiki).
Kendaraan berhenti karena seratus meter di depan terdapat pabrik. Motor dan mobil saling bersaing untuk menjadi terdepan. Tidak jarang, sepeda kayuh tersenggol motor yang ngotot. Kemacetan itu terus berlangsung hingga dua jam kemudian hanya karena para pekerja pabrik yang menyebrang jalan sesuka mereka.
Kendaraan diarahkan menuju jalan Braga, daerah yang menjadi tempat dengan bangunan-bangunan eksotis ala Belanda. Namun, seorang pengendara motor hampir saja terjatuh karena terpeleset ketika ban depannya masuk kedalam jalan granit yang berlubang. Di beberapa ruas jalan lain, kendaraan pribadi harus berbagi dengan angkot yang menunggu penumpang seenaknya.
Kendaraan umum seperti angkot dan bus Damri, bukannya memecah kemacetan, namun menjadi sumber kemacetan utama di kota Bandung. Bahkan, Trans Metro Bandung yang merupakan bantuan dari Kementrian Perhubungan (Departemen pada saat itu), hanya memiliki satu trayek dengan jumlah bus dan shelter yang minim.
Shelter-shelter bus di Kota Bandung kini berubah menjadi tempat berkumpulnya berandalan bermotor dengan coretan-coretan yang menandakan eksistensi mereka. Tidak seperti dalam serial Tv Mr. Bean yang berlokasi di Inggris, dengan sistem pembayaran melalui kartu yang digesekan setiap kali naik kedalam bus. Penumpang hanya diperbolehkan turun di shelter, tidak seperti angkutan-angkutan lainnya di Bandung.
Transportasi massal memang dibutuhkan oleh masyarakat Kota Bandung yang merindukan terbebas dari kemacetan. Selain itu, kesemrawutan yang diciptakan angkutan umum kini, membuat masyarakat semakin malas untuk sekedar jalan-jalan ke “kota.” Transportasi massal yang ada sekarang bukanlah yang diharapkan masyarakat Kota Bandung.
Seharusnya, program pemerintah membuat transportasi massal juga dengan pengurangan atau penghapusan angkutan kota yang sudah melebihi kapasitas jalan di Kota Bandung. Tidak seperti sekarang, projek Trans Metro Bandung berjalan namun untuk naik ke bus saja begitu sulit karena bus yang ditunggu tak kunjung datang disebabkan terjebak kemacetan.
Rencana pembangunan monorail pun sepertinya hanya sekedar wacana dan bukan untuk memecah kemacetan. Proyek ambisius ini tidak melewati daerah-daerah “penting” seperti pusat perkantoran dan pabrik yang memiliki jumlah pekerja yang besar. Proyek ini hanya melewati kawasan dago yang sebenarnya adalah daerah wisata, sehingga bisa ditebak, rencana ini sepenuhnya menjadi proyek komersial semata.
Saya membayangkan transportasi massal yang ada di Kota Bandung tidak seperti di Jakarta yang malah menambah kemacetan dan tidak membuat penumpang nyaman. Transportasi massal di Kota Bandung itu berjalan beriringan dengan jalur sepeda yang ada di sebelah kiri jalan dengan jalur pejalan kaki yang ada di jalur teduh di bawah pohon-pohon besar. Sementara itu, monorel berkelak-kelok membelah langit Kota Bandung.
Di setiap sudut jalan, tidak ditemui lagi masyarakat yang masih menggunakan kendaraan pribadi kecuali sepeda dan para pejabat pemerintahan yang arogan. Tidak ada lagi sahutan-sahutan kasar dari pengemudi kepada pengemudi lainnya karena menghalangi jalan. Di beberapa lokasi, masyarakat juga bisa menunggang kuda sebagai alat transportasi. Juga, terlihat sekelompok remaja yang menggunakan skateboard yang meluncur di jalanan yang mulus.
Semoga ini bukan hanya angan kosong belaka. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan yang tertinggi seharusnya bukan hanya menerapkan program, tetapi mengaplikasikannya secara sungguh-sungguh. Tidak hanya mengurusi kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan bersama. Mari ciptakan Kota Bandung tanpa macet dan dukung program angkutan massal.







