PENGENDARA SOREANG-KOPO LEBIH BERSAHAJA

22:02

Hampura lur, teu ka rem (sori bro, gak ke erem)

Dialog berbahasa sunda tadi terjadi ketika saya menabrak spakbor sebuah motor yang dikendarai oleh seorang pelajar. Dia tidak marah, karena saya meminta maaf duluan. Diiringi dengan senyuman tentu saja. Hal ini terjadi ketika saya akan berangkat menuju Jatinangor, menuntut ilmu.

Tidak ada yang aneh memang, tapi saya merasakan sesuatu yang berbeda dengan crowd yang ada di daerah Soreang-kopo, Cibeureum-Cibiru, hingga Cibiru-Cinunuk-Jatinangor. Tempat yang paling ganas adalah di Jalan Soekarno-Hatta arah Cibeureum-Cibiru. Para pengendara seolah bersaing merebut trophi untuk menjadi yang terdepan. Begitu pula dengan para pelajar. Baik pria maupun perempuan, semuanya saling kebut tanpa memerdulikan nyawa mereka yang tidak seperti kucing. Serupa terjadi dari Cibiru hingga Jatinangor. Para pengendara seolah berebut dan berdesakan. Begitu pula para pelajarnya. Mereka mengendarai motor seolah merekalah penguasa jalanan.

Hal berbeda terjadi di Soreang-Kopo. Pengendaranya lebih santun. Terbukti dengan sedikitnya klakson dan tingkat stress yang saya alami. Para pelajar pun saling bertukar senyuman ketika bepapasan. Memang tipis bedanya antara ramah dan ganjen, setidaknya hal ini yang membuat berkendara di daerah sini nyaman.

Sisi subjektivitas memang diragukan dalam tulisan ini. Ya, karena domisili saya di daerah Soreang yang memungkinkan kecintaan berlebih pada satu daerah. Tapi ini nyata kok. Saya tidak mengada-ada. Cobalah, ketika berkendara ketika macet, lalu di hadapan Anda ada pengendara yang ingin membuat Anda tenteram. Cobalah tersenyum padanya.

Kalau senyum Anda dibalas, ya itulah karakteristik pengendara daerah sini. Kalau senyum Anda tidak dibalas, mungkin pengendara tadi tidak melihat. Kalau senyum Anda disepelekan, atau pengendara tadi malah memalingkan muka atau bahkan muntah. Ada yang aneh dengan wajah Anda sepertinya.



Lihat Peta Lebih Besar

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts