JIL Tak Jauh Beda dengan NII dan Ahmadiyah?

18:37

Ini adalah tugas artikel "Komunikasi Politik" saya semester kemarin, tapi agaknya sedikit menyentuh isu terhangat sekarang mengenai NII. Bedanya, mereka hidup terkspos. Pleasee:


“Tidak ada satu pasal pun yang dilanggar oleh JIL. Bila masih ada sebagian orang yang masih keberatan dengan keberadaan JIL, silahkan menggugat lewat jalur hukum. Karena negara kita adalah negara hukum”.
Demikian bunyi siaran pers yang dirilis Jaringan Islam Liberal (JIL) lima tahun yang lalu. Siaran pers ini semakin menandakan eksistensi JIL di Indonesia.
JIL sebenarnya mulai terbentuk sejak maret 2001. Kehadirannya dirasakan memberikan sesuatu yang baru bagi sebagian orang. Pemikiran yang bebas tanpa terbatas menanggapi sesuatu, begitu dicari orang saat itu. Euforia kebebasan berekspresi mulai menanjak karena beberapa tahun sebelumnya, rezim Soeharto telah kandas di tangan mahasiswa.

Pemikiran JIL memang begitu keras, bahkan terkesan radikal. Namun, JIL tidak menggunakan kekerasan sebagai alat utama dalam menjalankan pemikirannya. JIL lebih senang mengadakan diskusi dengan tampilan sopan dan ramah. JIL juga lebih menjunjung tinggi pluralitas dibandingkan dengan penganut islam lainnya.
Dalam pandangannya, JIL menganggap bahwa semua agama di muka bumi memiliki satu Tuhan yang sama. Pandangan ini kemudian dibantah oleh masyarakat beragama lainnya, khususnya islam. Islam menganggap bahwa agamanya adalah satu-satunya agama yang dirahmati Tuhan, rahmatan fil alamin.
Dengan menganggap persamaan ini, JIL begitu dekat dengan penganut agama lain karena menganggap mereka sebagai saudara. JIL tidak pernah melemparkan bola api kepada penganut agama lain. Lalu, dimana masalahnya?
Ternyata, JIL begitu lekat dengan pengaruh ‘barat’ dalam hal ini Amerika dan sekutunya. JIL ditenggarai selalu mendapat kucuran dana yang besar dari ‘barat’. Menurut sejumlah organisasi islam, JIL adalah kepanjangan imperialisme barat atas dunia islam, meski bentuknya sudah mengatasnamakan islam. Ideologi yang digunakan adalah ideologi barat, dibungkus dengan indah oleh balutan simbol-simbol islam. ide-ide JIL itu sendiri, dapat dipahami sebagai ide-ide pokok dalam ideologi kapitalisme, yang kemudian dicari-cari pembenarannya dari khazanah Islam.
Inilah yang kini menjadi sosok yang menakutkan dalam dunia islam. Di satu sisi, mereka ingin menhancurkan kekafiran, tapi di sisi lain, kekafiran itu datang dari sisi mereka. JIL sangat bertentangan dengan organisasi islam seperti Hizbut Tahrir (HT). HT meyakini bahwa sistem pemerintahan sebuah negara islam adalah berbentuk khilafah. Sementara itu, JIL menolak mentah-mentah sistem khilafah dan menginginkan sebuah negara sekuler dengan ideologi barat.
HT meyakini sistem pemerintahan khilafah akan mendongkrak kemakmuran dalam sebuah negara. HT sebenarnya adalah partai politik namun karena sistem politik di Indonesia yang disebutnya sebagai ‘kafir’, maka kegiatan HT hanya sebatas sebagai organisasi masyarakat saja.
Sistem ini diperoleh semenjak terbentuknya khilafah oleh Muhammad SAW. Sistem pemerintahan ini diyakini dapat menyatukan semua umat muslim tanpa memandang wilayah (boardless). Hukum yang digunakan adalah hukum islam yang berlaku bagi semua umat beragama. Sistem khilafah tidak memaksa setiap warga negara untuk memeluk islam. Hanya saja mereka dipaksa untuk mematuhi hukum-hukum islam.

HT begitu nyaring mendengungkan sistem khilafah yang akhirnya ditentang keras oleh JIL. Menurut JIL, masalah ini akan selesai dengan ijtihad dan diselesaikan sepenuhnya oleh kaum muslimin. Tokoh yang mengemukakan hal ini adalah Nurcholis Madjid. JIL menganggap kaum muslimin untuk saat ini tidak menghendaki berdirinya sebuah negara islam, sehingga sistem seperti ini masih harus dipertahankan.
Agenda-Agenda JIL secara garis besar mencakup agenda agama, agenda politik, emansipasi wanita dan agenda kebebasan berekspresi. Menurut Adian Husaini dan Nuim Hidayat, apabila dilihat secara kritis, agenda ini malah akan merusak akidah islamiah dan syariah islamiah. Agenda emansipasi wanita contohnya. JIL berpandangan bahwa seseorang bebas untuk tidak beragama.
Apabila akidah dan syariah islamiah hancur, tentu akan tergantikan oleh akidah dan syariah ala penjajah yang mengusung sistem sekuler, memisahkan antara agama dan negara. Ide-ide JIL tersebut merupakan imitasi sempurna atas kapitalisme barat, meski ada ‘kreativisme’ disana-sini.
Tokoh-tokoh yang tergabung dalam JIL bukanlah orang sembarangan. Nurcholis Madjid, Ulil Abshari hingga Abdulrahman Wahid telah teridentifikasi terkena virus JIL. Entah karena terlalu cerdas, pemikiran mereka lebih mengarah ke nyeleneh tanpa logika. Meskipun begitu ketiga orang ini sangat dihormati di lingkungannya.
Namun, tokoh-tokoh di JIL setidaknya pernah bersinggungan langsung dengan Amerika. Nurcholis misalnya, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar ilmu agama di Amerika. Ada yang aneh? Ya, sewajarnya seorang muslim yang ingin belajar agama tentu akan datang ke mekah ataupun universitas islam yang kompeten. Oleh karena itu, Nurcholis ditenggarai bukannya belajar agama, melainkan belajar filsafat yang terus-terusan dicekcoki oleh pengaruh barat yang sedemikian besar.

Ulil Abshari, seorang aktivis Nadhatul Ulama (NU) yang pemikirannya biasanya bertentangan dengan aktivis NU lainnya. Ketika pemilihan ketua umum NU dilangsungkan, sebagian orang langsung berkata, “pilih siapa saja, asal bukan Ulil”. Sedemikian besarnya statement negatif mengenai tokoh-tokoh JIL, membuat Ulil lebih sering beraktivitas di JIl ketimbang di NU.
Tokoh terakhir yang tidak kalah kondang adalah Abdulrahman Wahid. Meskipun ia seorang muslim, mantan presiden dan mantan ketua umum NU, tapi sosoknya menimbulkan kontroversi di tengah kalangan umat islam. Pria yang akrab disapa Gus Dur ini terkesan terlalu mengistimewakan kaum-kaum minoritas secara berlebihan. Bahkan, entah untuk mendapatkan simpati atau bagaimana, sekte “Jehovah’s Witness” yang menurut umat nasrani sesat, dicabut izin pelarangannya di Indonesia.
Sebenarnya masih banyak tokoh kondang JIL yang sosoknya begitu kontroversial. Mereka begitu memikirkan akal dan logika dibandingkan dengan hati nurani. Mereka bisa saja berkata bahwa Al’Qur’an itu adalah khayalan Muhammad, tapi sehebat apa sosok Muhammad sehingga bisa membuat kitab yang begitu sempurna?
JIL bukannya tanpa cela, merekalah yang berada dibalik kasus terorisme di Asia Tenggara. Mulai dari Filipina, hingga Imam Samudra. Kita tidak bisa menutup mata atas fenomena ini. Kita menyerang Malaysia karena Nurdin dan Azhari yang menjadi otak dibalik serangan terorisme di Indonesia, tapi kita tidak melihat siapa aktor intelektual di balik semua ini.
Beragam pertanyaan mengenai teroris bermunculan ketika rencana pembunuhan mereka terhadap presiden yang selalu dapat digagalkan. Mengapa mereka melakukan ini? mengapa sebagai organisasi profesional, para teroris itu tidak becus meledakan tubuh presiden yang sebenarnya tidak terlalu mendapat pengawalan yang ketat ketika diluar?.
Pertanyaan lain soal pemboman hotel marriot dan Ritz Carlton dilakukan bukan saat kedatangan pemain Manchester United, tapi sebelum mereka datang? Mengapa pemboman dilakukan ditempat yang “kecil” dengan daya ledak yang kecil pula. Mengapa mereka membom kantor kedutaan besar Australia dari jalan raya? Mengapa tidak masuk setidaknya dipelataran parkir untuk menciptakan korban yang banyak?
Tentu, ada kepentingan tertentu di balik keganjilan-keganjilan tadi. Presiden tentu memiliki intel yang memberikan informasi rahasia kepadanya, tapi apa mungkin intelnya presiden adalah teroris? Mungkin saja, lihat saja siapa yang ada dibalik presiden dan condong kemana presiden itu, Amerika atau Rusia?
Mengapa teroris tidak meluluh lantahkan tubuh pemain MU tapi malah melecetkan ruang makan hotel Ritz Carlton? Tentu karena dengan kematian pemain MU, pihak asuransi akan membayar terlalu banyak uang, dan menghancurkan hotel Ritz Carlton akan membuat pemasukan terhadap hotel tersebut berkurang. Jawabannya adalah siapa yang memiliki hotel tersebut?
Untuk apa hal-hal ini dilakukan? Tentu untuk menggoyahkan keteguhan umat islam Indonesia dan berharap dapat terusik dan menerima kehadiran JIL. Dengan adanya teroris yang membawa serta merta simbol islam, citra islam akan turun dan menjadi tidak populer. Sistem pemerintahan pun akan tetap dipertahankan seperti ini sekuler.
JIL sesungguhnya menganggap bahwa hukum syariat islam itu hanya cocok digunakan di Arab karena hukum yang sudah usang. Mereka akan menjadi sumber daya manusia yang potensial bagi barat yang tidak menyukai kaum fundamentalis islam karena menganggap kaum-kaum ini sebagai duri dalam daging untuk kebebasan demokrasi.
Kesimpulannya adalah jangan sampai JIL ini menjadi kamuflase yang memadamkan perjuangan islam.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts