Memaknai Tahun Baru

22:15

Dentuman kembang api begitu menggema di setiap sudut kota. Seiring langkah berdegup menyongsong sesuatu yang baru. Semua senyuman terkembang memaknai kilauan cahaya. Mulut-mulut mungil mulai meniup terompet yang berdenging di telinga.
Suasana seperti inilah yang tidak saya dapat ketika perayaan tahun baru kemarin. Tidak ada kembang api di atas langit kota bandung nan biru, tak ada suara terompet bak vuvuzela. Mengapa? Karena malam itu saya tertidur begitu lelap -_-‘
Saya sengaja melewati peringatan tahun baru ini dengan biasa-biasa saja. Benar-benar tidak ada yang istimewa. Sesuatu yang istimewa di hari Jum’at itu adalah keberhasilan saya mewawancarai anggota DPRD. Semuanya terasa begitu mudah.
Di rumah, saya berdiri di loteng. Terlihat dengan jelas bagaimana cahaya saling berpendar menerangi indahnya kota Bandung di waktu malam. Namun, saya melihat ke arah selatan. Sepi. Tidak terlihat kemilau warna oranye disana. Seolah, kehidupan hanya mereka yang tahu. Saya lalu teringat kepada bapak penjual jagung manis.
Bapak ini menggelar dagangannya di depan pabrik “Asia Sport” dalam gelapnya malam. Hanya sorotan lampu kendaraan yang meneranginya yang tengah duduk bersama sang anak. Saya yakin, bapak ini datang dari jauh. Pasti daerah pegunungan semacam Ciwidey ataupun Pangalengan. Jagung-jagung itu pun dijualnya dengan murah. Lima belas ribu untuk dua puluh buah jagung berukuran sedang.
Malam itu, sang bapak menyajikan kemenangan bagi orang-orang yang ingin tahun baru dengan membakar jagung. Bapak ini tahu benar bagaimana menyuguhkan kesenangan bagi orang-orang itu. Saya hanya termenung, sungguh malam ini ia menjadi pahlawan.
Malam itu, setelah makan jagung saya memaksakan untuk tidur, meski jam menunjukan pukul sebelas malam. Kurang dari satu jam lagi, tahun 2010 kan berubah. Saya bahkan menolak menghadiri berbagai acara yang diadakan. Saya ingin tidur dan merasakan apa yang akan saya dapatkan esok hari.
Tahun ini seolah tanpa resolusi. Percuma, resolusi ini bagaikan menulis di kertas lusuh. Kertas-kertas yang akan hancur oleh waktu. Di dalam kamar, saya terbangun pagi-pagi sekali. Saya meyakini orang-orang yang tadi malam bersorak, masih lelap dalam tidurnya. Sementara itu, penolakan terhadap sebuah acara, membuat kemarahan seseorang bergejolak.
Saya meyakini malam tadi hanyalah waktu untuk menghabiskan tahun tanpa diiringi makna. Saya membandingkan ketika tahun baru hijriah bergulir. Tidak ada sorak sorai. Ketika sejumlah anak berbalut busana muslim dengan kesederhanaan menggiring obor berkeliling komplek. Lalu, sang tua bertanya, ada apa, sang muda menjawab, ini hari kemenangan.
Apa yang didapat ketika manusia-manusia berdiri ceroboh menyalakan bubuk mesiu? Ketika kesenangan mereka saat mesiu meledak, ditambah getaran-getaran yang mengusik gendang telinga. Semua dilakukan untuk apa? Merayakan apa?

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts